Oke kita lanjutkan ya
Pada cerita sebelumnya sudah saya ceritakan bahwa sejak lulus SMA secara pribadi saya sudah berkomitmen dengan diri sendiri untuk tidak pacaran dan membatasi interaksi dengan perempuan. Namun untuk menjaga komitmen itu ternyata gak mudah, ada saja ujiannya. Pada tahun pertama saya membangun komitmen itu rasa-rasanya mudah saja, tak ada yang sampe menggoda. Sampai akhirnya di semester dua saya di pertemukan dengan seorang wanita yang luar biasa dah pokoknya. Saat itu keimanan mulai terguncang, komitmen mulai terkikis, sedikit demi sedikit.
Meskipun demikian saya masih memegang kuat komitmen untuk tidak pacaran. Dan Alhamdulillahnya meskipun "sepertinya" saya dan perempuan itu saling suka tapi kami enggan untuk mengikatnya dengan status pacaran. Secara memang perempuannya juga adalah seorang Ukhti yang anti pacaran. Memang sebenarnya ujian cinta ini bukan hanya buat saya tapi juga buat dia. Karena kedatangan dia dalam hidup saya mulai melemahkan komitmen yang saya bangun untuk tidak pacaran. Kemudian kedatangan saya dalam kehidupannya juga mengotori niat baiknya dalam proses berhijrah.
Semester dua, tiga, empat dan lima kami masih dekat dan bisa di bilang juga makin dekat. Kedekatan itu rupanya mulai tercium oleh "lambe turah" nya kampus, sampe-sampe ketua jurusan pun tahu isu kedekatan kita. Pokoknya sudah menyebar luas deh.
Tapi inget kami gak pacaran loh ya, saya belum pernah mengutarakan perasaan saya, pun sebaliknya dia. Tapi saya akui kita cukup sering chatan, cukup sering boncengan, ya walaupun sebagian di lakukan karena kami memang satu organisasi dan sering ada dalam satu event bareng, jadi akan cukup sulit untuk tidak komunikasi atau ketemu.
Intinya kami berdua memang gak pacaran, karena kami sadar bahwa hal itu di larang. Tapi ternyata beberapa aktivitas yang kami lakukan seperti orang lagi pacaran yang mendekati zina. Seperti chatan dan boncengan. Walaupun jujur saya gak berani nakal-nakal, saya belum pernah pegang tangannya apalagi pegang-pegang yang lainya. Hehe Alhamdulillah Allah masih jaga saya.
Sebelum sadar seperti sekarang, dulu juga sebenarnya saya sudah menyadari bahwa ada yang salah dengan "komitmen" yang kami buat, dengan interaksi yang kami lakukan. Tapi ya gitu lagi, balik lagi. Bahkan pada satu momen kami pernah berkomitmen untuk tidak ketemu, tidak chatan apalagi boncengan tapi itu hanya bertahan beberapa minggu saja, akhirnya gitu lagi. Nyebelin kan, iya sama saya juga kadang sebel sama diri sendiri. Wkwk
Kalau di bandingkan dengan sinetron di TV atau cerita beberapa temen saya tentang gaya pacaran mereka, maka sebenarnya interaksi kami berdua masih bisa di katakan dalam taraf "wajar dan aman". Tapi entah kenapa hati saya gak damai, gak tenang, seolah ada yang salah, dan yang yang saya sering lakukan adalah mencari pembenaran bukan kebenaran. Intinya something wrong with me. Ya kalau belum siap halalin, ya tinggalin. Gitu
Saya kira kisah serupa juga sedang terjadi pada diri Anda, atau paling tidak temen-temen di sekitar Anda. Terutama mereka yang sedang berusaha untuk hijrah. Pasti di goda, pasti diuji. Mereka-mereka yang udah gak mau pacaran tapi membangun komitmen berisikan konten pacaran dengan aktivitas-aktivitas yang mendekati zina. Itu kan sama aja Bambang.
Yang agama larang itu bukan pacarnnya tapi aktivitas mendekati zina. Jadi meskipun kamu gak pacaran tapi masih melakukan aktivitas yang mendekati zina ya keneh-keneh kehed.
Saya yakin ujian seperti ini tidak hanya di alami oleh saya dan dia tapi juga Anda. Kita sama-sama sedang di uji dengan cinta. Untuk menyeleksi siapa yang paling pandai mengelola rasa dan memprioritaskan cintanya hanya kepada sang Maha Cinta, Allah SWT.
Alhamdulillahnya seiring berjalannya waktu, dan saya terus belajar untuk memaknai, memahami, dan melihat kejadian ini dari beberapa sudut pandang akhirnya sedikit demi sedikit "soal-soal" dalam ujian cinta ini bisa saya selesaikan .
Alhamdulillah
Sekarang saya jadi lebih pandai dalam mengenali, mengelola dan merespon rasa. Boleh jadi bentuk ujian cinta kita beda-beda, tapi semoga saja apapun bentuk ujianya kita sama-sama bisa melewatinya, Aamiin
Sejatinya ujian itu tidak benar-benar selesai, ia hanya berganti ke level yang lebih tinggi. Sebab kehidupan memang di cipta untuk menguji manusia, siapakah yang paling baik amalnya.
Ujian saya belum selesai, setelah lulus level pertama, sekarang datang lagi ujian level selanjutnya. Apa itu? Tunggu di tulisan saya berikutnya. Insya Allah
JANGAN LUPA SHALAT 5 WAKTU & See You

Tidak ada komentar:
Posting Komentar