• Perjalanan Menjadi Sarjana

     

    Senin, 26 Juli 2021 saya wisuda, momen yang paling ditunggu-tunggu namun tak pernah di sangka sebelumnya. Bagaimana tidak, saya pernah ada dalam kondisi putus asa bahkan untuk masuk SMA, apalagi untuk bisa jadi sarjana. Hal ini bermula ketika Ayah saya meninggal 10 tahun lalu yang saat itu saya masih duduk di kelas 2 MTs. Pada hari itu juga semua impian dan cita-cita saya sirna semua. Boro-boro berpikir bisa kuliah untuk melanjutkan sekolah ke SMA aja saya masih ragu.

    Terlebih saat itu perekonomian keluarga tidak stabil, sehingga ada beberapa aset yang harus dijual. Selama kelas 3 saya juga pernah menggembala kambing, pulang sekolah cari rumput begitu terus dalam setahun. Kalau mau main sama temen harus memastikan dulu ada rumput buat makan kambing.

    Singkat cerita saya bisa tetap melanjutkan sekolah ke pesantren modern meskipun dengan modal nekat. Meskipun begitu, alhamdulillah bisa lulus dengan memuaskan dan diberi kesempatan untuk bisa mengabdikan diri selama setahun di sana. Cerita lengkapnya bisa di baca pada buku antologi Menembus Batas Mimpi yang di terbitkan oleh pondok Pesantren Nurul Madany.

    Jika melihat masa lalu yang seperti itu maka wajar rasanya kalau saya merasa bahagia ketika bisa menyelesaikan studi ke perguruan tinggi dan menjadi sarjana. Sebab bagi saya dan keluarga, proses menuju kesana itu tidak mudah. Mungkin bukan hanya bagi saya dan keluarga, sebagian pembaca tulisan ini juga merasakan hal serupa.

    Bagi keluarga, mereka mengorbankan banyak materi entah untuk biaya SPP kuliah atau biaya operasional selama anaknya kuliah yang kadang bisa lebih tinggi. Bagi individu mahasiswa juga butuh kesabaran, ketekunan dan sungguh-sungguh dalam menyelesaikan skripsi. Selain itu kalau dari pengalaman saya selain kesungguhan, doa juga sangat membantu dalam proses pembuatan skripsi. Saya merasa begitu banyak hal yang Allah bantu mudah kan mulai dari memilih judul, menyusun proposal, mencari objek penelitian, ujian komprehensif sampai sidang skripsi. 

    Oh iya, pastinya itu bukan hanya berkat doa dari saya tapi doa dari Ibu saya dan doa Bapak saya dulu. Kalau saya lihat seluruh rangkaian perjalanan saya menuju sarjana, rasanya orang yang paling berperan adalah Ibu saya. Beliau ini luar biasa meskipun tinggal seorang diri, tapi tetap kuat, sabar, dan sangat sayang sama anak-anaknya.

    Terima kasih Ibu...

  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar