Tulisan ini sebenarnya untuk menjawab pertanyaan dari salah seorang pembaca pada tulisan saya sebelumnya tentang Seni Mengelola Rasa. Ternyata tulisan saya waktu itu cukup relate dengan kondisinya saat itu. Bingung rasa sukanya harus di simpen atau di ilangin. Kurang lebih seperti ini pertanyaanya.
"mohon maaf suhu, mumpung momennya lagi pas, anak baru balig mau nanya; berarti si "rasanya" itu biar tetep aman disimpen aja dulu atau diilangin dulu?"
Saya meyakini kondisi ini gak cuma relate sama penanya diatas. Tapi banyak juga anak muda lainya yang mengalami hal serupa. Termasuk saya. hehe. Apalagi ketika trend "Hijrah" di Indonesia semakin meluas. Akhirnya banyak anak-anak muda yang gak mau pacaran. Hal itu bagus dan perlu di apresiasi, tapi sayangnya belum bisa di imbangi dengan keterampilan mereka mengelola rasa.
Okelah kita bisa mencegah diri kita untuk gak pacaran, tapi untuk mencegah timbulnya rasa suka, ini yang sulit. Soalnya rasa suka itu sendiri kan fitrah manusia. Agamapun membolehkannya asal sesuai dengan SOP yang ada. SOP disini maksudnya adalah jika keduanya sudah saling suka dan sama-sama siap, maka menikahlah.
Tapi jika belum siap nikah seperti saya gimana?
Mari kita diskusikan!
Sebelum menjawab pertanyaan diatas saya mau disclaimer beberapa hal dulu; Pertama, konteks jawabnnya nanti adalah untuk orang-orang yang belum siap nikah. Sebab kalau rasa suka itu muncul saat Anda sudah siap nikah, maka saran saya segera nikahlah. Kedua, jawaban saya bersifat subjektif dalam arti ini bersumber dari pengetahuan dan pengalaman pribadi saya. Ketiga, saya terbuka untuk segala jenis pemikiran. Jadi jika Anda tidak setuju dengan jawaban saya, ya gpp itu sah-sah aja.
Oke kita langsung ke jawabanya.
di simpen atau di ilangin?
Menurut saya tidak dua-duanya. Misal ketika rasa suka itu Anda simpan, kira-kira apa yang akan terjadi? Hemat saya jika rasa itu di simpan maka seiring berjalannya waktu, dia akan terus menggulung seperti bola salju, semakin hari semakin besar. Dan semakin besar di sini tidak selalu berarti Anda semakin suka, bisa jadi sebaliknya. Karena rasa itu kan adanya di hati, sedangkan sifat hati itu gak stabil selalu naik turun. Jadi kemungkinanya Anda bisa semakin suka atau semakin benci. Sayangnya dua kondisi itu sama-sama kurang baik untuk diri Anda.
Berarti harus di ilangin dong?
Belum tentu juga. Ketika rasa suka itu muncul dan Anda berusaha untu menghilangkannya, maka hal itu sama saja dengan Anda menolaknya. Usaha yang Anda lakukan untuk menghilangkannya pun belum tentu benar. Misal, Anda berusaha melupakan orangnya dengan harapan rasa sukanya juga bisa hilang. Kira-kira apa yang terjadi? Yap Anda malah akan semakin mengingatnya, bukan lupa.
Gak percaya?
Yuk kita buktikan.
Sekarang saya minta Anda jangan memikirkan mantan-mantan Anda, sekali lagi jangan memikirkan mantan Anda, jangan pikirkan mantan Anda. Mulai sekarang lupakan mantan Anda. Percaya gak percaya ketika Anda membaca arahan saya tadi otak Anda malah bereaksi untuk mengingat siapa aja mantan-mantan Anda, bahkan sampai Anda terbayang wajahnya. Bener kan?
Namun jika tidak, berarti Anda memang gak punya mantan. wkkwkw :)
rasa suka itu unik.
Terkadang orang yang anda sukai
tidak tampan atau cantik,
tapi anda suka melihatnya.
Itulah rasa suka.
Curang memang, suka datang tiba-tiba
Oke kita lanjut.
Jadi baiknya gimana, kalau di simpen gak boleh, di ilangin juga gak boleh.
Jawabannya. Terima aja. Ketika saya, Anda atau kita semua suka sama seseorang cukup sadari, dan terima bahwa itu adalah hal yang wajar. Jangan di tolak, sebab semakin Anda tolak, semakin membengkak.
Kemudian ketika Anda sudah bisa menerimanya, langkah selanjutnya adalah anggap rasa suka itu hanya sebagai tamu dalam kehidupan Anda. Gak lebih. Selayaknya tamu ketika ia mengetuk pintu rumah Anda, maka bukalah dengan penerimaan yang baik. Persilakan duduk, dan suguhkan ia minum. Tanya baik-baik, dari mana, ada perlu apa, dan mau kemana? Jika sudah selesai keperluanya, maka persilakan ia untuk pulang. Anda cukup mengantarkannya ke depan gak perlu ikut-ikutan.
Namun, sekiranya tamu itu meminta untuk menginap, Anda sebagai tuan rumah punya kewenangan untuk mengizinkannya atau tidak. Jika tidak di izinkan, maka sampaikanlah dengan baik-baik, dan jika di izinkan pun tidak boleh lebih dari 3 hari. Kalau sampe 3 hari tamu itu masih mau menginap maka statusnya bukan lagi tamu, Anda sudah boleh mempekerjakannya, mengambil tenaga darinya. Begitu aturan di agama kita.
Sama halnya dengan rasa suka, ia hanya tamu yang mampir ke rumah Anda. Terima aja, dan tentunya syukuri bahwa Allah masih memberikan Anda rasa suka. Tapi ingat jangan biarkan rasa suka itu berada terlalu lama dalam diri Anda. Apalagi jika rasa suka itu sudah banyak menganggu hidup Anda, membuat Anda semakin tidak produktif, bahkan semakin jauh dari Allah. Tapi jangan di usir juga, cukup persilakan ia pergi dengan sendirinya.
Ingat Anda adalah tuan rumah bagi diri Anda sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar