Sebagai seorang yang suka banget public speaking peribahasa diatas cukup membuat saya takut dan khawatir. Takut ada yang menganggap kalau saya termasuk orang yang bisa ngomong doang tapi gak ada isinya. Loh berarti gak ikhlas dong jadi pembicaranya kalau masih peduli sama pendapat orang lain? Bukan kesitu larinya dong ferguso. Kan yang tidak suka melihat orang yang banyak bicara tapi gak ada isinya itu bukan hanya manusia, tapi Allah juga.
Namun seperti yang sering saya
sampaikan ada klien yang cerita soal ketakutan dan kekhawatiran mereka “jangan
fokus sama jensi emosinya takut ataupun khawatir, tapi fokuslah sama pesan yang
dibawa oleh emosi tersebut”. Maksudnya? Begini, saya coba tanya Anda ya.
Menurut Anda apakah emosi takut dan khawatir itu hadir untuk membuat Anda
berhenti jadi pembicara? Atau untuk membuat Anda tidak percaya diri saat
berbicara?
Ternyata bukan!
Lalu apa pesan yang ingin disampaikan oleh rasa takut itu?
Perasaan takut saat akan
berbicara didepan umum atau khawatir ada yang menanggap kalau omongan kita gak
ada isinya itu adalah hal yang wajar. Selama takut dan khawatir itu tidak
berlebihan. Kemudian rasa takut dan khawatir juga tidak berarti lampu merah
yang ingin membuat Anda STOP dari keinginan berbicara di depan umum.
Melainkan, rasa takut dan
khawatir itu sebenarnya adalah rambu-rambu peringatan, atau alarm untuk diri
kita. Pesan yang ingin disampaikan oleh rasa takut atau khawatir adalah “Jut,
kalau kamu tidak ingin dianggap tong kosong yang nyaring bunyinya, maka
belajarlah lagi, baca buku lebih banyak lagi, kaji penelitian-penelitian
terbaru, ikuti seminar dan pelatihan, berdiskusi dengan mentor”
Gimana sudah
nangkep pesannya?
Jadi kalau Anda merasa takut atau
khawatir saat akan berbicara didepan umum (bisa juga dipake dalam hal lain)
cobalah ketiga tips ini:
1.
Terima bahwa
perasaan emosi itu sesuatu yang wajar selama tidak berlebihan
2.
Sadari bahwa
rasa takut dan khwatir itu rambu-rambu atau alarm bukan lampu merah
3.
Pahami pesan apa
yang ingin disampaikan oleh rasa takut dan khawatir tersebut
Tidak kalah pentingnya setelah
Anda tahu dan paham apa isi pesannya, langsung praktekan agar supaya Anda tidak
berlama-lama ada di zona rasa takut dan khawatir. Dengan begitu perasaan takut
dan khawatir bisa lebih berkurang karena pemikiran Anda sudah terbuka dan kapasitas
diri kita sudah semakin meningkat. Insya Allah
Saya sendiri sudah mempraktekan
tiga tips diatas, sebagai buktinya adalah tulisan ini. Walaupun sebenarnya saya
pribadi kurang suka nulis. Yang saya suka itu sebenarnya berbicara di depan
umum bukan menulis apalagi membaca.
Tapi ada satu momen dimana saya
diminta jadi pembicara di depan orang yang secara level pengalaman ada diatas
saya. Dari situlah muncul ketakutan dan kekhawatiran. Takut salah, takut gugup
pas presentasinya, takut gak berisi pembicaraanya, dan ketakutan-ketakutan
lainya. Sampai akhirnya saya coba praktekan ketiga tips diatas dan hasilnya
adalah. Saya menyadari bahwa ketakutan dan kekhawatiran
yang saya rasakan adalah alarm dari dalam diri untuk mendorong saya agar
belajar lagi.
Maka dari itu saya mulai perbanyak
asupan pengetahuan melalui online course, webinar, baca buku, artikel, dan
tentunya diskusi. Salah dua yang sedang saya coba rutinkan adalah membaca dan
menulis.
Mengapa dua hal itu?
Sebab dalam topik tertentu saya
memang sangat minim sekali referensi sehingga kalau diminta jadi pembicara
pastinya kurang berani. Untuk itu saya baca buku yang berhubungan dengan topik
tersebut, dengan begitu harapannya referensi jadi makin banyak dan secara kosa
kata dalam bebicara juga semakin kaya.
Kemudian kenapa menulis? Karena
saya sadar salah satu kekurangan saya dalam berbicara adalah kadang muter-muter
dan gak runut, dan akhirnya ngabisin banyak waktu. Dengan menulis saya belajar
dan berlatih untuk membuat pikiran saya lebih runut dan menyeleksi kata atau
kalimat yang terus berulang.
Apa yang kita keluarkan sebagai
sebuah ucapan, umumnya itu berasal dari apa yang kita pikirkan. Ketika
pikirannya acak dan tak beraturan, maka wajar kalimat yang keluarnya juga
demikian. Dengan menulis saya juga melatih otak untuk lebih terstruktur dalam
beripikir dan memilih kalimat yang pas untuk dikeluarkan sebagai sebuah pesan.
Membaca dan menulis adalah dua
cara yang saya lakukan untuk meningkatkan skill saya dalam public speaking.
Anda mungkin punya cara sendiri, silakan cari tahu dan praktekan!
Oh iya, selain di blog ini,
beberapa tulisan saya dengan topik yang berbeda bisa Anda nikmati juga disini www.akutemanmu.id untuk tema kesehatan
mental, psikolgi dan konseling. Kemudian di www.madrasahkeluarga.id untuk
tema-tema pranikah, dan tentunya tema tentang mindset dan pengembangan diri di www.muhamadjutana.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar