• Jawaban dari Kegalauan Usia 20-an [Review Buku You Do You]

     

    Jika sekarang Anda sedang dalam proses pencarian jati diri, maka You Do You adalah salah satu buku yang wajib di baca. Memang tidak sempurna, dan belum tentu juga Anda menemukan jati diri setelah membacanya. Tapi setiap bab dalam buku ini akan membuat Anda satu langkah lebih dekat dengan siapa diri Anda.

    Fellexandro Ruby penulis buku ini sepertinya memang sengaja menulis buku ini untuk orang-orang yang lagi dalam proses pencarian jati diri. Anak muda yang sedang mengalami Quarter Life Crisis. Secara isi, gaya penyampaian dan visual memang di setting untuk anak dua puluhan.

    Oh ia, di review buku kali ini saya akan coba membaginya ke beberapa tahap. Pertama, soal bentuk dan visual buku, kemudian isi, dan insight yang saya dapat setelah membaca buku ini.

    Kita mulai dari segi bentuk dan visual dulu. Buku ini terdiri dari 235 halaman dengan 5 bab di dalamnya. Menariknya setiap bab memiliki warna yang berbeda-beda, di bagian akhir babnya Anda akan di berikan space untuk menulis pelajaran apa yang di dapat setelah membaca tiap babnya. Yang unik juga tiap bab punya barcodenya tersendiri yang bisa Anda scan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih luas.

    Lanjut ke bagian isi. Setelah membacanya sampai selesai saya merasa bahwa buku ini adalah pengejewantahan dari quote “Experience is The Best Teacher”. Pengalaman adalah guru yang berharga. Pengalaman yang dimaksud disini tidak harus dari diri sendiri, bisa juga pengalaman orang lain. Pengalaman Ruby dalam mengenal diri, mencoba banyak hal, membangun bisnis, dan menjalani prinsipnya bisa menjadi guru (digugu dan ditiru) untuk anak usia 20 an.

    Pada bagian awal bukunya Ruby langsung menjelaskan kalau kegalauan generasi sekarang mengenai passion, karir, keuangan, quarter life crisis, pilih generalis atau specialist, jawabannya adalah   TERGANTUNG. Tergantung value yang kita pegang, latar belakang keluarga, pola pikir, kondisi keuangan, tujuan hidup, skill yang kita miliki dan masih banyak lagi.

    Inilah mengapa penting untuk bisa mengenal diri. Karena jawaban atas kegalauan tiap orang berbeda-beda. Tergantung bagaimana orangnya. Jawaban yang Ruby temukan, belum tentu cocok untuk kita. Pun sebaliknya. Menurut Ruby mengenal diri merupakan exercise yang semakin perlu diasah oleh generasi yang lebih sering teralihkan oleh notifikasi.

    Seberapa sering kita menjenguk diri sendiri, dengan jujur dan mengakui kekurangan dan kekuatan kita?

    Orang yang mampu mengenal diri dengan baik, cenderung lebih percaya diri dan kreatif. Kalau kita mengenal diri dengan baik, keputusan yang diambil akan lebih baik, hubungan akan lebih kuat, dan komunikasi akan lebih efektif. Itulah beberapa manfaat yang akan kita dapatkan jika mampu mengenal diri dengan baik, menurut Ruby. Dalam proses mengenal diri Ruby juga menyampaikan pentingnya mindset, mengetahui cara belajar, dan tahu kapan waktu produktif. Sebab setiap orang punya waktu pinternya masing-masing.

    Pada bagian selanjutnya, Ruby menceritakan pengalamanya bertemu dengan passion dan ikigai. Alasannya karena dia melihat masih banyak anak muda yang belum tahu apa passionya. Padahal informasi tentang passion sudah tersebar di mana-mana. Buku, video, online course, dan seminar-seminar sudah banyak yang membahasnya. Saya coba bantu jelaskan sedikit apa itu passion. Sederhanya passion adalah gabungan antara minat dan bakat. Minat diartikan sebagai apa yang kamu suka (what do you love) dan bakat diartikan sebagai apa yang kamu bisa/baik (what you’re good at).

    Ok sampai sini sudah tergambar apa itu passion?

    Jika sudah, kita lanjut membahas ikigai. Tapi sebelum itu saya mau tanya apakah Anda sudah pernah baca bukunya Ikigai karya Hector Garcia, dan Francesc Miralles atau buku Ikigai karya penulis lainya? Atau Anda pernah melihat diagramnya di internet atau dimana saja? Saya asumsikan pembaca blog ini adalah orang-orang yang suka dengan tema self awareness dan self improvement jadi kemungkinan besar sudah tahu apa itu ikigai dan gimana diagramnya.

    Supaya lebih jelas saya coba cantumkan gambar diagramnya:

    Saya kaget setelah Ruby menjelaskan kalau ini bukan ikigai. Yap betul Anda tidak salah baca, gambar diatas bukanlah ikigai melainkan purpose diagram yang dibuat oleh Andres Zuzunaga, lalu diadopsi oleh Marc Winn dalam salah satu presentasi di Ted Talk-nya. Di slide presentasinya saat itu Marc merubah kata purpose menjadi ikigai.

    Buku ini tidak mennjelaskan ikigai secara detail, karena kalau mau tahu lebih banyak soal ikigai Anda bisa membaca buku yang khusus membahas soal itu. Saya punya dan sudah selesai di baca, kalau Anda mau pinjam, tulis aja di kolom komen. Lanjut ke pembahsan buku, menurut Ruby untuk menemukan ikigai, Anda tidak harus memulainya ada apa yang Anda suka, tapi bisa juga memulai dari tiga sisi yang lainya.

    Melangkah dari pembahsan seputar ikigai dan passion, pada bab berikutnya Ruby menyampaikan gagasan tentang hidup, pekerjaan dan karir. Menurut saya slaah satu yang paling jleb dari bab ini adalah ketika Ruby menyampaikan kalau untuk kaya itu gak harus jadi pengusaha, jadi pegawai juga bisa. Seperti yang Anda tahu kalau jaman sekarang banyak sekali ornag yang pengen kaya. Apalagi kaya nya bisa cepet. Asumsi banyak orang kalau ingin kaya harus jadi pengusaha. Menurut Ruby orang yang berpikir seperti itu berarti tidak punya temen selain pengusaha yang kaya raya. Terlalu sempit circle nya. Padahal tidak ada karir yang lebih superior dari yang lainya. Setiap karir punya tantangannya masing-masing.

    Saran dari Ruby kalau Anda mau resign dari kantor dan pindah haluan jadi pengusaha, pastikan secara mental dan karakter Anda cocok. Ada orang yang secara mental cukup kuat untuk menghadapi ketidakpastian pendapatan, dan secara karakter juga tidak suka mengerjakan rutinitas yang itu-itu aja. Tapi ada juga yang lebih suka yang pasti-pasti aja soal pendapatan, dan tidak masalah untuk ada di bawah tekanan atasan.  Tentu bukan hanya dua hal tadi yang menjadi ukuran apakah seseorang cocok jadi pengusaha atau enggaknya.

    Sampailah kita pada bab yang menurut saya paling menarik,yaitu bab 4 yang membahas tentang Building Your New Net Worth. Mengapa pembahasan ini menarik? Karena saya merasa jawaban saya mengenai generalist atau specialist terjawab disini. Mungkin sebagain pembaca blog ini juga ada yang relate dengan pertanyaan. “di awal karir Saya fokus sama satu hal aja agar lebih ahli dibidangnya atau langsung coba banyak hal supaya kemungkinan suksesnya juga semakin luas?”

    Jawaban dari pertenyaan generalist atau specialist yang dijabarkan dalam buku ini adalah dengan pola ITM Shaped:

    Pertama I shaped; mulai dari satu skill yang kita dalami sampai ahli, misalkan sebagai penulis. Anda jago dalam merangkai kata yang tidak hanya mengedukasi, tapi juga menginspirasi.

    Kedua T shaped; Anda jago banget nulis. Tapi Anda juga jago dalam public speaking. Anda tahu bagaimana cara menginfluence orang dan ngerti cara membuat materi yang sesuai kebutuhan peserta. Anda juga cukup paham bagaimana membangun personal branding di medsos. Pada level ini selain sebagai penulis Anda juga bisa menjadi pembicara atau trainer.

    Ketiga M shaped; Anda menjadi pengusaha. Ketika Anda mempunyai semua skill diatas ditambah dengan kepemimpinan yang bagus, dan bisa membangun tim dengan baik. Dengan personal branding yang baik, dan daya influence yang tinggi tentu Anda tidak akan kesulitan dalam menjual produk atau jasa yang Anda miliki.

    Bagian akhir buku ini Ruby tutup dengan bab yang membahas soal principles. Tidak begitu menarik, tapi tetap ada pelajaran yang bisa kita ambil. Misalnya ungkapan Ruby soal prinsip dia dalam melihat kehidupan.

    “Ketika melihat sepuluh tahun kebelakang lo akan menyadari bahwa segala kesulitan yang lo alami hadir supaya lo naik kelas. Yes, di hari itu atau di minggu itu, menjalaninya akan berat. Tapi ketahuilah dalam gambaran besarnya, lo tetep bertumbuh, grafik lo tetep naik, perlahan tapi pasti.”

    Menurut saya jika Anda termasuk orang yang ingin tahu penjelasaan tentang teori dalam mengenal diri, maka buku ini mungkin kurang cocok. Sebab pembahasan di dalamnya baru sekedar kulit-kulitnya saja. Tapi jika Anda butuh role model untuk menjadi percontohan dalam proses mengenali diri, maka buku wajib segera Anda beli.

    Gimana sudah cukup puas dengan reviewnya?

    Kalau ada yang ingin di diskusikan boleh share di kolom komentar ya!


  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar