• JANGAN DULU TA'ARUF SEBELUM BACA BUKU INI [INSIGHT BUKU TAARUF-NIKAH-KHITBAH]

     


    Review Buku Ta’aruf-Khitbah-Nikah-Walimah dan Malam Pertama Karya Agus Ariwibowo


    Buku ini diawali dengan kisah Nabi Muhammad SAW bertemu dengan istri tercintanya Sayidah Khadijah. Istri yang selalu beliau ingat meskipun sudah wafat, sampai pernah suatu ketika hal itu membuat Sayyidah Aisyah cemburu. Hayo kira-kira gimana ya proses pertemuan Nabi dengan Sayyidah Khadijah, apakah lewat pacaran, adik kakak-an, atau ta’aruf-an?


    Kalau mau tahu baca aja sirahnya, tidak hanya ada di buku ini kok, di buku-buku lain juga banyak yang menceritakannya. Tidak hanya itu di buku ini juga diceritakan beberapa kisah para Nabi dan sahabat dalam menemukan cinta sejatinya. Kisah Nabi Musa dalam menemukan istrinya, kisah Salman Al-Farisi ketika mengkhitbah seorang wanita bersama sahabatnya, dan kisah perjuangan Abu Thalhah untuk meyakinkan Ummu Sulaim agar mau menerimanya.


    Betul kata pepatah “Pengalaman adalah Guru yang Terbaik'' dan salah satu makna Guru adalah digugu dan ditiru. Kisah para Nabi dan sahabat yang sampai ke telinga kita hari ini bukan sesuatu yang kebetulan, melainkan itu semua untuk menjadi tauladan. Bagaimana sesungguhnya tutorial mencari jodoh yang baik dan benar. Wkwk


    Ok baik, dalam review ini saya tidak akan membahas detail soal cerita para Nabi dan Sahabat, karena itu bisa Anda baca secara lebih lengkap dalam buku-buku sirah nabawi.


    Buku Ta’aruf-Khitbah-Nikah dan Malam Pertama ini sebenarnya ada dua versi, pertama untuk Ikhwan yang berwarna biru, dan kedua untuk Akhwat yang berwarna pink. Isi keduanya hampir sama yaitu panduan untuk menemukan jodoh sesuai dengan tata cara yang Allah ridhoi. Saya akan coba sampaikan bagian penting-penting saja yang mungkin belum banyak orang tahu.


    Beberapa diantaranya adalah mengenai pemahaman bahwa taaruf sebagai sebuah proses perkenalan tidak sama sekali menjadi jaminan bahwa keluarga yang akan di bangun setelahnya pasti rukun, adem ayem, bahagia selamanya. Tidak. Hal itu juga sudah terkonfirmasi dari beberapa artis yang kita kenal, menikah melalui proses taaruf tapi kemudian cerai di tengah jalan.


    Lalu kenapa mesti taaruf kalau gak bisa menjamin? Mending pacaran aja!


    Eit-eit bentar dulu, apakah pacaran juga menjamin kelanggengan rumah tangga? Tentu tidak bukan? Banyak juga kok artis yang cerai padahal udah pacaran lama sebelum nikahnya. Jadi taaruf maupun pacaran memang tidak bisa menjamin kalau rumah tangga tidak akan berhenti ditengah jalan.


    Mencari jodoh ada ilmunya.

    Membangun keluarga bahagia juga ada ilmunya.

    Jadi keduanya sama-sama harus punya ilmu, tidak bisa hanya mengandalkan ilmu dalam mencari jodoh untuk membangun sebuah keluarga yang bahagia.


    Tapi kenapa tetep harus pake taaruf bukan pacaran?


    Karena secara sudut pandang agama, proses taaruf lebih terhindar dari maksiat karena prosesnya dibersamai oleh pendamping dalam arti tidak hanya berduaan saja. Kemudian dari sudut pandang proses juga lebih sederhana tidak berbelit-belit seperti pacaran.


    Umumnya mencari jodoh lewat pacaran itu diawali dengan PDKT, terus menyatakan cinta, kalau diterima lanjut pacaran, kalau ditolak terpaksa harus melupakan. Hups Ketika diterima pun hubungan pacaran biasanya berjalan tanpa kejelasan waktu. Ada yang sampe 3-10 tahun, ada juga yang bergonta-ganti pacar, bahkan tak jarang punya 2-3 pacar di waktu yang sama. Dasar buaya. Wkwk


    Tidak hanya itu ending dari pacaran juga kadang belum jelas apakah mau lanjut nikah atau tidak. Karena dalam pacaran tidak ada syarat keduanya harus siap nikah dulu. Berbeda halnya dengan taaruf, sebelum laki-laki dan perempuan mau taaruf, maka mereka harus sudah pasti siap nikah dulu. Tidak bisa taaruf dilaksanakan apabila salah satu atau salah duanya belum siap nikah.


    Kemudian dari segi proses juga taaruf lebih sederhana tapi ngena. Biasanya taaruf di mulai dengan kesepakatan untuk melakukan taaruf, kemudian bertukar biodata, dan melakukan pertemuan untuk tanya jawab dan diskusi, setelah itu baru mengambil keputusan apakah lanjut khitbah atau tidak. Proses itu biasanya hanya berlangsung dalam jangka waktu satu bulan saja, dan untuk menuju pernikahannya hanya 3-6 bulan. Sederhana bukan?


    Yang tidak kalah penting lagi, dalam proses taaruf sangat minim terjadinya sakit hati dan susah move on. Jadi gimana? Udah tahu kan kenapa taaruf lebih recomended daripada pacaran?


    Setelah menjelaskan taaruf, buku yang memiliki 242 halaman ini kemudian menjelaskan tentang proses selanjutnya yaitu khitbah. Dan menurut saya pembahasannya cukup detail, mulai dari apa makna khitbah, kapan khitbah sebaiknya dilakukan, bagaimana tata cara khitbahnya, sampai kepada penjelasan bagaimana kalau khitbahnya ditolak. :)


    Pada bab berikutnya penulis menjelaskan tentang nikah, walimah, dan malam pertama. Lagi-lagi penjelasannya cukup detail apalagi di bagian malam pertama, saya sebagai orang awam sampe beberapa kali bilang Oh, Oh, Oh jadi gini. Wkwkw


    Sssttt sedikit bocoran aja buat yang baca sampe akhir, di bagian malam pertama penjelasannya detail banget loh. Bagaimana tidak, makna, hakikat dan hikmah hubungan seks di bahas. Pemanasan, orgasme, posisi dan variasi dalam hubungan seks juga dibahas. Tidak sampai situ, kelainan-kelainan seksual yang mungkin dialami oleh laki-laki dan perempuan juga dibahas. Plus cara menanganinya juga dibahas pada bab ini.


    Kesimpulannya untuk orang yang masih lama nikahnya jangan dulu baca buku ini deh, kecuali kuat untuk menahan diri tidak membaca bagian terakhir. Wkwk Tapi kalau untuk yang akan menikah dalam waktu dekat, buku ini jelas recomended banget untuk segera dibaca sekarang juga. Very-very work it, seriously!





  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar