Mengenal diri adalah topik yang sudah saya sukai cukup lama. Terbukti dengan beberapa jenis keilmuan yang saya pelajari seperti palmistry, grafologi, dan STIFIn Personality. Ketiganya membahas tentang bagaimana kita mengenal diri.
Misal, palmistry mempelajari karakter orang dari garis tangannya. Grafologi mempelajari karakter orang dari tanda tangan atau tulisan tangannya. Lalu STIFIn Personality mempelajari karakter seseorang dilihat dari otak dominan yang bisa diketahui melalui scan sidik jari.
Selain itu saya juga pernah membuat serial ebook tentang diri yang bertajuk SeMeDi (Seni Memahami Diri). SeMedi #1 Siapa, Dimana, dan Kemana. SeMeDi #2 Seni Memahami Diri Melalui Sidik Jari. SeMeDi #3 Seni Memahami Diri Melalui Grafologi.
Nah, buku yang akan coba saya bahas ini juga membahas tentang mengenal diri. Buah tangan dan pemikiran Gerry Adrian, seorang penulis dan podcaster. Buku jangan buru-buru mengenal diri sendiri butuh waktu adalah karya keduanya.
Awalnya saya mengira kalau buku ini bergenre pengembangan diri, tapi setelah saya beli bukunya dan cek cover belakangnya. Gerry mengkategorikan buku ini sebagai kumpulan cerita. Di dalamnya memang cukup banyak cerita dari perjalan Gerry saat mengenal diri.
Tidak hanya itu Gerry juga menambahkan beberapa sudut pandangnya tentang lingkungan pertemanan dan pekerjaan, serta bagaimana ia dibentuk. Bagaimana orang tuanya memberikan nilai-nilai kehidupan yang masih dipegang sampai saat ini.
Satu dari sekian banyak insight yang saya dapat dari buku ini adalah sebuah pertanyaan yang menohok, menampar, dan bikin kepala geleng-geleng. Kenapa? Karen pertanyaannya deep banget.
Seperti apa pertanyaanya?
Apakah kamu mau kalau diminta untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang sifatnya sama seperti dirimu sendiri?
Bersyukurlah kalau kamu sudah bisa menjawab pertanyaan ini dengan jawaban Ia saya mau. Sebab jika jawabannya tidak mau, lantas bagaimana bisa kamu berharap orang lain akan melakukannya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar